SAPA Minta Tak Ada Pembiaran Kendaraan Over Kapasitas di Jembatan Kutablang


SAPA- Serikat Aksi Peduli Aceh (SAPA) mendesak Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh bertindak tegas dengan melakukan pengawasan penuh selama 24 jam terhadap operasional Jembatan Bailey Kutablang.

Langkah tersebut dinilai penting guna mencegah kendaraan barang bermuatan melebihi 30 ton melintasi jembatan darurat yang berpotensi mempercepat kerusakan konstruksi.

Ketua SAPA, Fauzan Adami, menegaskan jembatan tersebut tidak dirancang menahan beban berlebih secara terus-menerus sehingga pengawasan harus dijalankan tanpa celah dan tanpa kompromi.

“Jangan sampai jembatan dibiarkan dilintasi kendaraan melebihi 30 ton tanpa pengawasan ketat. Jika ini terus terjadi, jembatan tidak akan bertahan lama dan masyarakat dirugikan karena harus berulang kali diperbaiki,” ujar Fauzan, Sabtu (21/2/2026).

SAPA mengaku kerap menerima laporan masyarakat terkait dugaan pembiaran kendaraan bermuatan berlebih melintas, terutama pada tengah malam saat kondisi jalan sepi.

Selain itu, SAPA meminta dipastikan kendaraan yang memperoleh kartu putih benar-benar sesuai dengan kapasitas maksimal 30 ton. “Karena jarak lokasi penimbangan cukup jauh dari jembatan, dikhawatirkan terdapat kendaraan yang setelah ditimbang berpotensi menambah muatan kembali sebelum melintas,” ujar Fauzan.

SAPA menilai ketegasan pengawasan jauh lebih murah dibandingkan perbaikan jembatan yang berulang-ulang. Jika pembiaran terus terjadi, bukan hanya anggaran pemerintah yang terbuang, tetapi juga keselamatan masyarakat pengguna jalan ikut terancam.

“Pemerintah Aceh melalui Dinas Perhubungan dan aparat penegak hukum harus memastikan tidak ada kecurangan yang merugikan masyarakat luas nantinya,” tegasnya.

Fauzan menekankan pentingnya pencegahan sejak dini mengingat jembatan tersebut merupakan akses vital masyarakat.

“Lebih baik mencegah sekarang daripada terus memperbaiki nanti. Jangan sampai jembatan rusak karena kelalaian pengawasan,” tutupnya.